hakitat orang tua dan kewajiban kepada anak
Ceramah
D
Didin komarudin
8 Mei 2026
4 menit baca
2 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإ...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: {وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا} (الإسراء: 23).
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang terhormat Bapak/Ibu Kiyai, para habaib, tokoh agama, sesepuh, ummahatul mukminin, serta seluruh ibu-ibu pengajian yang saya cintai karena Allah. Senang sekali rasanya bisa bersua kembali dengan wajah-wajah cerah dan penuh semangat ini. Semoga kehadiran kita semua di majelis ilmu yang penuh berkah ini dicatat sebagai amal ibadah oleh Allah SWT. Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya kita semua bisa berkumpul di sini dalam keadaan sehat walafiat.
Ibu-ibu sekalian, hari ini kita akan ngobrol santai, namun insya Allah penuh makna, tentang topik yang sangat dekat dengan hati kita semua: Hakikat Orang Tua dan Kewajiban Kita kepada Anak. Wah, kalau dengar kata "orang tua" dan "anak", pasti langsung teringat masa kecil kita yang mungkin bandelnya minta ampun, atau mungkin teringat anak-anak kita yang sekarang sedang aktif-aktifnya, bikin gemas sekaligus bikin pusing tujuh keliling, ya kan, Bu? Kadang suka bingung sendiri, ini anak siapa yang diturunkan. Kita? Atau suaminya? (tersenyum).
Dalam Islam, orang tua itu punya kedudukan yang luar biasa mulia. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'anul karim, Surah Al-Isra' ayat 23: {وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا}. Artinya, "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengucapkan perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."
Pernah nggak, Bu, kita pas lagi kesel sama anak, terus terucap kata-kata yang agak kasar? Atau pas orang tua kita berpesan, eh kita malah jawabnya ketus kayak lagi nawar harga di pasar. Nauzubillah, Bu. Padahal, kalau kita perhatikan, betapa luar biasanya perjuangan orang tua kita membesarkan kita. Dulu waktu kecil, kita mungkin sering bikin nangis, bikin pusing, bikin dompet menipis. Sama seperti anak-anak kita sekarang, kan? Dari mulai bangun malam buat nyusuin, ganti popok yang isinya bikin senyum campur aduk, sampai ngajar ngomong, ngajar jalan. Semuanya itu adalah bentuk kasih sayang yang tak ternilai.
Nah, sekarang giliran kita sebagai orang tua. Kewajiban kita kepada anak itu bukan cuma nyediain makan, nyekolahin, sama beliin mainan yang lagi viral. Tapi jauh lebih dalam lagi, Bu. Ada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: "Setiap anak adalah tergadai dari (kebaikan) aqiqahnya, disembelih pada hari ketujuh, dicukur (rambutnya) dan diberi nama." (HR. Bukhari & Muslim). Ini menunjukkan pentingnya proses aqiqah dan pemberian nama yang baik.
Lebih dari itu, kewajiban kita adalah mendidiknya dengan pendidikan Islam yang benar. Mengajarkan mereka Al-Qur'an, mengajarkan shalat sejak dini. Ingat nih, Bu, kalau mau anak patuh sama kita, ajarkan mereka patuh sama Allah dulu. Kalau mereka dekat sama Allah, insya Allah mereka juga akan hormat sama orang tuanya. Pernah ada cerita, seorang anak yang sangat sholeh. Setiap kali ayahnya mau pergi dagang, dia selalu memeluk ayahnya sambil berkata, "Ayah, jangan lupa shalat Dhuha ya." Subhanallah. Ayahnya jadi merasa diingatkan dan terus berzikir. Justru anak yang sholeh itu bisa jadi penolong kita di akhirat nanti.
Jadi, Ibu-ibu hebat sekalian, marilah kita renungkan. Hakikat orang tua adalah amanah dari Allah yang harus kita jaga, kita hormati, dan kita kasih sayang. Begitu juga anak-anak kita, adalah titipan dari Allah yang harus kita didik dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita terlalu sibuk dengan urusan dunia sampai lupa mendidik permata hati kita. Ingatlah, anak adalah cerminan dari orang tuanya. Kalau kita mau anak kita jadi pribadi yang baik, maka mulai dari diri kita sendiri, perbaiki diri kita. Senyum yang tulus kepada anak, sabar menghadapi tingkah polahnya, nasihat yang lembut namun tegas, itu semua adalah investasi akhirat kita.
Mari kita jadikan rumah kita sebagai surga dunia, tempat di mana cinta Allah dan Rasul-Nya selalu bersemi. Kita ajarkan anak-anak kita untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari apapun. Insya Allah, dengan begitu, hidup kita akan lebih berkah, anak-anak kita akan menjadi penyejuk hati, dan kita semua akan berkumpul kembali di surga firdaus-Nya Allah. Aamiin.
Mohon maaf atas segala kekhilafan dan kekurangan. Terima kasih atas perhatiannya.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.